KALIMANTAN BARAT – Sebagai wujud transparansi dan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan, CarbonX melalui PT. CMI telah menyelenggarakan rangkaian kegiatan diseminasi dan koordinasi untuk Sanggala Corridor Project di awal Juni 2026. Mengusung pendekatan kolaboratif, rangkaian kegiatan ini bergerak secara simultan mulai dari tingkat provinsi di Kota Pontianak, tingkat kabupaten di Sanggau dan Landak, hingga menjangkau langsung perwakilan masyarakat di tingkat desa. Rangkaian kegiatan ini bertujuan untuk memaparkan capaian proyek, mengevaluasi program, serta membangun komitmen sehingga kedepannya proyek dapat berjalan dengan lebih inklusif dan berdampak.
Sinergi Tingkat Provinsi
Rangkaian diseminasi diawali di Kota Pontianak dengan menggelar pertemuan bersama Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) dan Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL). Sebagai otoritas pengelola hutan lestari di tingkat provinsi, pelibatan BPHL menjadi penting untuk memastikan seluruh capaian dan rencana aksi Sanggala Corridor Project selaras dengan regulasi kehutanan pemerintah serta target-target pelestarian lingkungan dalam skala yang lebih luas.
Koordinasi dengan Kabupaten Sanggau: Dukungan Penuh Eksekutif dan Dinas Terkait
Menyambung koordinasi tingkat provinsi, PT. CMI melakukan serangkaian audiensi dan pra-sosialisasi dengan jajaran pimpinan daerah di Kabupaten Sanggau guna memperkuat komitmen PT CMI. Bupati Sanggau menyambut hangat inisiatif Sanggala Corridor Project dan menilai proyek ini sejalan dengan program daerah dalam pelestarian hutan serta pengelolaan Sumber Daya Alam berkelanjutan sekaligus menyetujui rencana sosialisasi formal proyek yang dijadwalkan pada Juli 2026 mendatang. Sejalan dengan itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Sanggau memberikan dukungan penuh dan menekankan bahwa penguatan serta keterlibatan lembaga adat adalah kunci keberhasilan program sosial dan lingkungan di masyarakat. Dukungan ini diperkuat dengan kehadiran Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada agenda diseminasi tingkat kabupaten, serta kesiapan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk peluang kerjasama dalam pelestarian adat dan budaya.
Mendengar Suara Tapak: Diseminasi Tingkat Kecamatan di Balai Karangan
Puncak dari proses keterlibatan pemangku kepentingan tingkat tapak berlangsung pada Rabu, 10 Juni 2026, bertempat di Balai Karangan. PT. CMI menggelar diseminasi yang dihadiri oleh perwakilan pemerintah dari 3 kecamatan (Entikong, Beduai, Sekayam), Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Sanggau Barat, serta perwakilan masyarakat dari 7 desa kunci.
Dalam sambutannya, perwakilan PT. CMI menegaskan bahwa forum ini digagas sebagai ruang evaluasi bersama dan bentuk transparansi perusahaan. Capaian proyek sepanjang 2023–2025 akan dipaparkan secara terbuka, meliputi tiga pilar utama: konservasi iklim, pemberdayaan komunitas (community), dan perlindungan keanekaragaman hayati (biodiversity).
Apresiasi dan dukungan besar datang dari jajaran pimpinan wilayah. Perwakilan Camat Entikong mengapresiasi pentingnya menjaga kelestarian hutan Kalimantan dan berharap program penghijauan serta peningkatan ekonomi masyarakat dapat terus berkembang. Perwakilan Camat Beduai turut menyampaikan harapan agar program-program kehutanan dan lingkungan perusahaan terus memberikan manfaat nyata, sementara Camat Sekayam mengapresiasi transparansi PT. CMI serta menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pihak dalam menjaga nilai adat dan hutan di tengah tantangan perubahan iklim. Di sisi lain, KPH Sanggau Barat memuji PT. CMI sebagai satu-satunya perusahaan HTI di wilayah tersebut yang fokus pada pemulihan ekosistem, seraya mendorong agar program ini terus konsisten meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Penguatan di Tiga Aspek Utama dari 7 Desa
Dipandu oleh Bapak Aan dari PT. CMI, forum tersebut berhasil menggali aspirasi mendalam serta komitmen konkret dari masyarakat 7 desa:
- Biodiversity & Reforestasi: Warga menyambut baik upaya pengayaan tanaman hutan dan pemantauan satwa menggunakan camera trap. Perwakilan Desa Mawang Muda, Thang Raya, dan Raut Muara secara khusus mengusulkan peningkatan kapasitas patroli hutan, keterlibatan Masyarakat Peduli Api (MPA), serta pelatihan teknik tanam tanpa bakar demi mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
- Community Development (Program Sosial): Keberadaan program kesehatan “Dokter Masuk Desa” dinilai sangat dirasakan dampaknya. Agar lebih optimal, warga mengusulkan penambahan variasi obat, peningkatan frekuensi menjadi minimal dua kali setahun, hingga perluasan cakupan bagi lansia dan penanganan stunting. Selain kesehatan, melihat keberhasilan kerja sama gotong royong pembangunan pipanisasi air bersih di Dusun Raut Kayan (Desa Raut Muara) yang dipicu dari temuan kasus penyakit kulit akibat pencemaran sungai saat program Dokter Masuk Desa, desa-desa lain seperti Desa Mawang Muda, Engkahan, dan Thang Raya turut mengusulkan replikasi program pipanisasi serupa sebagai solusi infrastruktur air bersih di wilayah mereka.
- Pelestarian Budaya: Selaras dengan arahan Dinas Dikbud Sanggau, tingginya harapan warga terhadap aspek adat terakomodasi dalam forum ini. Desa Kenaman, Sungai Ilai, dan Raut Muara mengusulkan dukungan berkelanjutan untuk pengembangan sekolah adat, perlindungan hukum adat untuk flora-fauna, hingga pengelolaan akses yang layak menuju kawasan ODCB (Objek Diduga Cagar Budaya).

Koordinasi Kabupaten Landak: Pemerataan Program
- CMI melanjutkan agenda diseminasi ke Kabupaten Landak, bertempat di Kecamatan Air Besar, meski operasional proyek masih berfokus di Blok Sanggau, perusahaan berkomitmen mengembangkan program secara bertahap dan merata hingga ke wilayah Kabupaten Landak. Agenda yang dibuka resmi oleh Camat Air Besar dan didukung perwakilan Kapolsek ini menjadi wadah interaktif untuk menjaring berbagai usulan strategis dari masyarakat tapak. Jajaran Temenggung/Pesirah Adat serta warga Dusun Tauk mengusulkan penguatan peran lembaga adat dan pembentukan Satgas Adat guna melindungi kawasan Hutan Lindung dan Cagar Alam. Aspirasi ini direspons positif oleh PT. CMI melalui rencana pendirian Sekolah Adat Belangin untuk melestarikan nilai budaya lokal serta pendampingan edukasi status Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB). Selain aspek adat, kemandirian ekonomi turut menjadi sorotan lewat usulan inovasi usaha Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) oleh Kepala Desa Sepangah dan BPD di Dusun Tepo, serta rekomendasi pengembangan ekowisata berbasis komunitas dan perbaikan akses jalan dari Camat Air Besar. Sebagai langkah konkret terhadap pemulihan ekonomi ini, PT. CMI berkomitmen mengkaji peluang pembentukan Kelompok Usaha Kecil dan Kerajinan (KUKK) di sektor pertanian dan kerajinan tangan.
Berkomitmen Bersama untuk Masa Depan Sanggala
Seluruh rangkaian diseminasi ini ditutup dengan kesimpulan yang kuat bahwa keberhasilan proyek karbon tidak hanya dihitung dari jumlah pohon yang terjaga, tetapi juga dari seberapa erat masyarakat lokal dan pemerintah daerah dilibatkan di dalamnya.
Melalui komitmen yang dituangkan oleh pemerintah desa, CarbonX dan seluruh pemangku kepentingan di Kalimantan Barat siap melangkah bersama menjaga kelestarian Koridor Sanggala sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.





